Milan – Jose Mourinho memang jadi alasan mengapa Inter Milan bisa menjuarai Liga Champions 2010. Tapi itu tidak akan bisa dicapai tanpa bantuan Samuel Eto’o.

Inter menyudahi puasa gelar Liga Champions mereka dalam empat dekade terakhir usai menjadi juara pada 2010 dengan mengalahkan Bayern Munich 2-0.

Itu jadi musim terbaik Inter setelah era La Grande Inter di tahun 60-an karena mereka meraih treble winners karena juga jadi juara Serie A dan Coppa Italia.

Mourinho yang jadi pelatih saat itu pun lantas dielu-elukan oleh fans Inter yang juga menangisi kepergiannya ke Real Madrid di musim panas. Tim Inter saat itu dianggap yang terbaik di Eropa plus racikan Mourinho.

Namun di balik tangan dingin Mourinho, ada juga peran penting penting Eto’o di final saat itu. Memang tak ada gol yang dibuat Eto’o tapi wejangan yang diberikan di ruang ganti sebelum kick-off final sudah “membakar” semangat rekan-rekannya.

Wajar saja Eto’o diminta melakukan itu mengingat dia adalah pemain yang berpengalaman tampil di final Liga Champions, dua kali bersama The Catalans di 2006 dan 2009.

“Mourinho memang melakukan sesuatu yang tak banyak orang bisa melakukannya. Dia memberi wejangan sebelum pertandingan, lalu berkata: ‘Kini giliran Samuel yang memberitahu cara agar kita bisa juara’. Saya harus berterima kasih kepadanya untuk itu,” tutur Eto’o kepada Sky Italia.

“Di final, anda bisa unggul jika Anda punya pikiran unggul dan bukan untuk bertekuk lutut. Setiap dari kami berpikir soal perjuangan mencapai titik ini, mengalahkan The Blues dan The Catalans, mencapai final pertama dalam 40 tahun,” sambung pemain asal Kamerun itu.

“Saya bilang bahwa saya sudah memainkan banyak final tapi ini adalah yang paling spesial. Kami harus melakukan sesuatu yang banyak orang, untuk pendukung Inter yang pantas mendapatkan ini.”

“Saya katakan: ‘Pilihannya adalah memenangi LIga Champions, atau kita mati sekarang. Kami harus berusaha mati-matian membawa pulang piala atau mati karena kami tidak akan pulang ke Milan tanpa Piala itu’. Untungnya segalanya berjalan lancar.”

“Saya melihat sekeliling usai pidato itu dan Julio Cesar menangis,” tutupnya.

(mrp/fem)


NO COMMENTS