Singapura – Selama ini La Liga begitu identik dengan Real Madrid dan The Catalans. La Liga pun berusaha semaksimal mungkin mengubah stigma tersebut.

Tak dipungkiri bahwa Madrid dan Barca menghadirkan persaingan begitu seru nan sengit di liga. Dengan kekuatan yang dimiliki baik dari sisi dana maupun skuat membuatnya jadi dua penguasa La Liga.

Mereka bisa dengan bebas mendatangkan para pemain top setiap musimnya. Duopoli itu memang sempat diganggu Valencia dan Deportivo La Coruna, namun itu hanya di awal 2000-an sebelum keduanya terus melaju saat ini.

Sejak kedatangan Diego Simeone, Atletico Madrid jadi pesaing baru keduanya dan bahkan sempat jadi juara La Liga musim 2013/2014. Sampai saat ini ketiga klub itu saling bersaing ketat di papan atas

Meski demikian, tetap saja La Liga sudah kadung lekat dengan Madrid dan Barca sehingga publik kerap bosan menyaksikan persaingan keduanya. Jika bukan laga El Clasico atau Derby Madrid, maka jangan harap bakal ada penonton di luar Spanyol. Timpangnya persaingan antara kedua klub itu, Atletico, dan lainnya jadi alasan.

Hal ini yang lantas membuat La Liga kesulitan bersaing dengan Premier League secara pemasaran ke beraneka penjuru dunia, khususnya Asia yang ekonomi terbilang stabil saat ini.

Maka dari itu otoritas La Liga pun berupaya untuk lebih mengenalkan La Liga kepada masyarakat Asia, dengan cara pertama yakni mengubah jam tayang dan juga promosi besar-besaran di kawasan itu termasuk Indonesia yang berpenduduk besar.

“Kami ingin beritahu juga kepada dunia bahwa Spanyol tak hanya El Clasico atau Derby Madrid. tapi juga Derby Sevilla, Derby Basque, dan lainnya. Kami punya banyak klub-klub hebat seperti Sevilla, Villarreal, Atletico, Valencia, dan lain-lain,” tutur Presiden La Liga, Javier Tebas, dalam wawancara dengan sejumlah media termasuk detikSport di Shangri-la Hotel, Singapura, Rabu (14/3/2018).

“Kami terus mencoba berinovasi. Tapi, tentunya tak sekadar dua klub besar tersebut. Kami akan mencoba pertandingan-pertandingan lain, karena tak sedikit yang menjadi fans klub lain,” lanjutnya.

Tak cuma itu, Tebas juga menekankan bahwa kualitas tontonan jadi prioritas utama selain tentunya penyediaan beraneka jenis platform untuk menonton.

“Kualitas tontonan pun kami berupaya tingkatkan. Kami meningkatkan soal kualitas penggambilan gambar dari beraneka angle, seperti dari udara menggunakan drone. Situasi pertandingan seperti korner, free kick, dan lain-lain. Kamera 360 derajat, itu memberikan gambaran soal pemain karena anda bisa merasakan lebih bagaimana suasana di lapangan,” lanjutnya.

“Kami merumuskan beberapa hal sejak tahun 2015. Tak mudah membuat perubahan, tapi setidaknya brand La Liga terus meningkat, dan itu berefek pada seluruh aspek, terutama finansial.”

“Kami tahu bahwa penonton bukan robot makanya kami lebih mendekatkan diri dengan mereka, ada secara fisik dan tak lagi hanya lewat dunia maya. membawa pemain idolanya ke sini. Melihat keingina mereka seperti apa dan menerima masukan dari mereka. Fans pun tahu bahwa liga kami lebih enak ditonton, lebih indah, ketimbang liga sebelah yang cenderung kasar,” tutup Tebas.

()



NO COMMENTS