Jakarta – Mantan pelatih klub sepakbola Pelita Bandung Raya (PBR) Darko ‘Daniel’ Janackovic melaporkan petinggi klub PBR ke Polda Metro Jaya. Daniel merasa ditipu karena gajinya senilai Rp 1,8 miliar selama satu tahun melatih klub dibayar dengan cek kosong.

“Permasalahannya tidak pernah dibayar salary yang dijanjikan. Mediasi, cari resolusi, tidak menemukan. Ada kesepakatan ulang, dibuat perjanjian ulang pemutusan kontrak dengan komitmen pembayaran Rp 130 juta dibayarkan 12 kali, dibukakan cek yang ternyata kosong,” jelas Henry Indraguna selaku kuasa hukum Daniel kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/4/2017).

Henry mengatakan pihak PBR telah menyerahkan 12 cek kepada Daniel yang diberikan tiap bulan. Akan tetapi, tidak satu pun ceknya itu yang bisa dicairkan.

“Klien kami mau cairkan cek tersebut, tetapi tidak ada dananya, kosong. Bukan hanya sekali, tapi lebih dari 10 kali. Di sini ada keterangan dari bank saldo tidak mencukupi,” ujarnya.

Menurutnya, pihak PBR tidak mempunyai iktikad baik untuk menyelesaikan pembayaran terhadap Daniel. Akhirnya, setelah beberapa kali mediasi namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, Daniel memutuskan melapor ke pihak kepolisian.

“Tidak pernah ada jawaban, seolah-olah lari dari tanggung jawab. Putus harapan, Daniel datang ke tempat kami. Sebagai warga yang baik lakukan proses hukum,” ucapnya.

Persoalan tunggakan bayaran gaji Daniel disebabkan PBR sudah tidak memiliki uang lagi. Bahkan Henry mendapatkan informasi bahwa lisensi PBR telah dijual kepada Madura United.

“Dikatakan mereka tidak punya uang. Padahal sebetulnya PBR jual liaison ke Madura United, yang kami sudah dapatkan informasi yang aktual bahwa nilai (penjualan klub) yang fantastis itu sudah dibayarkan ke PBR. Nilainya cukup fantastis,” sambungnya.

“Kenapa klien kami tidak dibayar dan ke mana uang tersebut? Sesuai aturan FIFA, setiap pelatih atau pemain yang tidak dibayar gajinya, (klub) tidak boleh mengikuti liga,” tambahnya.

Henry menuturkan pihaknya telah mengirimkan surat ke FIFA dan PSSI untuk melarang Madura United mengikuti setiap liga Indonesia. “Minggu depan kami akan gugat perdata PBR dan Madura United,” tuturnya.

Laporan Daniel tertuang dalam Tanda Bukti Laporan (TBL) Nomor LP: 1804/IV/2017/PMJ/Ditreskrimum. Dalam laporan tersebut, Daniel melaporkan Marco dan Ary Sutedi (owner PBR) dengan tuduhan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan.

“Cek tersebut atas tanda tangan Saudara Marco. Dugaan kami, sudah melakukan perbuatan melawan hukum. Nilai keseluruhan Rp 1,8 miliar. Jadi ini satu peringatan sangat memalukan bangsa kita. Kita undang pelatih internasional, tapi tidak dibayar,” tuturnya.

Daniel sebelumnya dikontrak sebagai pelatih PBR untuk periode 2013-2016. Namun, pada Desember 2013, PBR memutus kontrak Daniel dengan alasan sudah tidak punya uang lagi.

“Mereka memutus kontrak saya karena ada permasalahan keuangan. Principal klub pergi dan tidak melanjutkan kontrak saya. Saya terima keputusan itu, dan saya meminta gaji saya. Mereka memberikan gaji satu tahun, dan semua cek ini ternyata kosong,” sambung Daniel.

Daniel hanya menikmati gaji pertamanya sebesar Rp 290 juta. “Cek pertama tidak cair. Saya tanya Marco, ada apa ini? Lalu dia bilang akan ganti, dan dia transfer Rp 290 juta. Baru itu saja. Sisanya 11 cek tidak bisa dicairkan,” urai Daniel.

(mei/krs)


NO COMMENTS