Jakarta – Rencana pemerintah Indonesia untuk melakukan percepatan pembangunan sepakbola nasional terus digeber. Pemerintah dan PSSI terus menggodok langkah-langkah yang perlu diambil.

Kementerian Pemuda dan Olah tubuh (Kemenpora) dan kementerian terkait melakukan rapat lanjutan terkait percepatan pembangunan sepakbola nasional di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (8/2/2017).

Rapat tersebut dipimpin oleh pelaksana tugas Deputi V Kementerian PMK, yang juga dihadiri oleh pejabat Kemenpora dan beberapa perwakilan kementerian terkait, termasuk perwakilan PSSI, yaitu Joko Driyono, Ade Wellington, dan Fanny Riawan.

Rapat tersebut menghasilkan dua hal, yaitu draft grand desain dan instruksi presiden yang motornya adalah Kemenpora dan Kementerian PMK.

“Kenapa pake Inpres? karena ini seperti Asian Games, lintas kementerian. Jika kementerian A mengeluarkan uang itu bisa sebagai dasar, tanpa Inpres mereka tidak mungkin menganggarkan,” kata Kepala Komunikasi Publik Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto, yang juga mengikuti rapat tersebut.

Seperti diketahui, pembangunan persepakbolaan nasional yang dicanangkan ini bukan hanya soal infrastruktur. Tetapi juga berkaitan dengan pembenahan secara menyeluruh terhadap tata kelola sistem kompetisi sepakbola nasional. Tujuannya agar kompetisi sepakbola tanah air lebih kompetitif dan berkualitas.

Gatot menambahkan, tidak ada usulan special dari PSSI dalam rapat tersebut. Sebaliknya, PSSI merespons positif rapat yang rencananya akan terus berlangsung secara rutin di setiap pekan.

“Mereka happy. Tetapi ada pernyataan menarik dari mereka. Agar tidak ada miss-persepsi, kementerian-kementerian lembaga saling bersinergi membantu kebutuhan PSSI,” ujar dia.

Gatot juga berharap masukan dari pemerintah ini bisa dijawab oleh PSSI lewat prestasi, yang terdekat adalah SEA Games. Namun begitu, lanjut dia, nantinya bukan hanya level Asia Tenggara saja tetapi akan meluas ke level yang lebih tinggi.

“Sekarang dengan adanya Ratas, tentu saja nanti akan lebih lebar lagi. Bukan hanya juara SEA Games, tetapi the big four di Asian Games. Selain itu, bagaimana misalnya pembinaan usia dini, masalah transparansi, kompetisi yang baik, dan juga tidak takluk penting bagaimana bola ini menjadi bagian dari national character building,” katanya.

(mcy/mfi)


NO COMMENTS