Jakarta – Andik Vermansah memiliki sebuah cita-cita special. Kelak saat telah gantung sepatu dari dunia sepakbola, Andik ingin punya sebuah akademi sepakbola.

Keinginan pemain Selangor FA itu turut didasari pada pengalamannya ketika mengawali karier sebagai pesepakbola. Andik merasa fasilitas penunjang untuk pemain muda di Indonesia masih minim.

“Di usia 17 tahun menginjak 21 tahun itu masih kurang fasilitasnya,” ujar Andik.

“Di usia 17-23 tahun itu kan penting untuk membangun otot kanannya. Kalau sekarang di usia U-13 sampai U-16 bagus-bagus, cuma nanti otot yang naik ke senior memerlukan latihan yang benar.”

“Pemain-pemain U-19 Brasil saja mereka cepat sekali langsung ke U-23. Di sana latihannya benar, kalau di sini latihannya cuma lari-lari, passing, sementara fasilitasnya kurang,” katanya menambahkan.

Andik menilai pemain Indonesia lebih banyak mengandalkan skill individu. Sedangkan untuk fisik kerap keteteran karena sejak usia muda tidak diberikan latihan yang ideal akibat kurangnya fasilitas pendukung.

“Kalau sudah di atas 16 tahun otot pemain harus dikembangkan. Di negara-negara luar, mereka fasilitasnya sudah lengkap, tapi di Indonesia masih ketinggalan, makanya kami mengandalkan individu,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pemain kelahiran Jember tersebut berharap kelak bisa membantu pemain-pemain muda lewat fasilitas akademi sepakbola yang ia cita-citakan. Dengan begitu, Indonesia akan memiliki pemain-pemain dengan fisik dan stamina bagus.

“Saya punya keinginan besar punya akademi sepakbola. Daripada melatih atau wasit, mending saya punya akademi di Surabaya. Saya jadi bisa mefasilitasi pemain muda. Apa yang jadi pengalaman, saya yang tahu yang kurang di mana, itu akan saya perbaiki,” ucapnya.

“Intinya di usia 16-23 itu masih tanda tanya untuk training di sini. Kalau ada fasilitas komplet, saya yakin akan bagus. Individual di Asia Tenggara Indonesia bagus, cuma fasilitasnya yang kurang,” kata Andik.

(ads/krs)


NO COMMENTS