Jakarta – Timnas Spanyol sempat mengalami keterpurukan sebelum akhirnya merajai sepakbola dunia. Hal yang sama tentu diharapkan terjadi di Timnas Indonesia pada era Luis Milla.

Spanyol hanya pernah meraih satu gelar mayor ketika menjuarai Piala Eropa 1964. Setelah itu prestasi sepakbola negara itu mandek meski klub-klub seperti Real Madrid dan The Catalans bergantian merajai dunia.

Bahkan Spanyol sempat mendapat julukan ‘Tim Spesialis Kualifikasi’ sampai akhirnya kedatangan Luis Aragones di 2004 mengubah persepakbolaan negara itu.

Memang hasilnya belum terlihat ketika disingkirkan Prancis di Babak 16 besar Piala Dunia 2006. Tapi dua tahun kemudian Aragones mengakhiri kutukan Spanyol dengan membawa pulang trofi Piala Eropa.

Setelah itu seperti kita tahu Spanyol merajai persepakbolaan dunia dengan gaya tiki-taka yang begitu fenomenal itu. Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 jadi pembuktiannya.

Belum pernah ada tim yang bisa melakukan seperti yang Spanyol capai sedari tahun 2008 hingga 2012 itu. Indonesia boleh jadi berharap kesuksesan Spanyol itu bisa menular kepada mereka setelah merekrut Luis Milla sebagai pelatih awal tahun ini.

Apalagi ‘Skuat Merah Putih’ pun sudah lama tidak merasakan gelar juara setelah terakhir meraih medali emas SEA Games 1991. Ditambah lagi soal ‘kutukan’ Piala AFF yang sampai sekarang belum bisa dipecahkan.

“Yang paling sulit adalah memenangkan sebuah turnamen Piala Dunia, Piala Eropa, dan Piala Asia. Saya beruntung berada di generasi 90-an dan bermain bersama Luis Enrique serta Pep Guardiola, tapi saya (Timnas Spanyol) tidak pernah juara dan hanya sampai semifinal,” ujar Milla dalam acara diskusi dengan media di Hotel Yasmin, Karawaci, Tangerang, Jumat (31/3/2017) malam WIB.

“Spanyol bagus karena pergantian struktur, pemain, dan metode pelatihan lebih bagus. Lalu pertama kali juara di era Luis Aragones tahun 2008, sebelum 2008 pemain Spanyol hanya bersinar di Spanyol, tapi sekarang kita lihat banyak pemain Spanyol yang main di Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis. Iitu jadi lompatan bangun supaya lebih percaya diri lagi, kami lebih semangat yang dibuktikan lewat Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012,” sambungnya.

“Mendiang Aragones memecah kebuntuan di 2008, lalu membangun kepercayaan diri para pemain. Itu semua terjadi berkat proses, dan perubahan harus dilakukan di seluruh lini. Hal tersebut juga harus dilakukan di Indonesia,” tutupnya.

()


NO COMMENTS