Jakarta – Rumah Sakit Olah tubuh Nasional (RSON) di Cibubur turun tangan dalam kasus cedera Hapidin. Pemain Persibat Batang itu mendapatkan penanganan secara cuma-cuma.

Hapidin menjadi pusat perhatian netizen belakangan ini. Itu setelah dia mengumumkan menjual sepatu emas saat bermain untuk Persibat Batang pada Divisi Satu musim 2014 via instagram. Pemain asal Bandung 25 tahun itu butuh biaya untuk pemulihan patah tulang kering kaki kirinya.

Masalah yang dialami Hapidin sampai ke telinga RSON. Hapidin pun mendapatkan perawatan secara intensif di RSON Cibubur sejak dijemput di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat oleh staf medis dengan menggunakan ambulans RSON, Kamis (2/3/2017). Pemeriksaan dimulai dengan rekam medik, kemudian pemeriksaan di poli klinik, anamnesis, pemeriksaan fisik, postur, laboratorium, radiologi, pemeriksaan total body composition (TBC), pedoscan serta yang lainnya.

“Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, pasien didiagnosis adanya bagian tulang yang patah dan adanya pengapuran di sendi pergelangan kaki, disertai adanya infeksi dan alergi. Saat ini masih terus dimonitor melalui serangkaian tes,” ucap direktur RSON, Dr. dr. Basuki Supartono dalam rilis Kemenpora yang diterima detikSport, Kamis (9/3/2017).

“Kami akan menangani seluruh kebutuhan untuk kesembuhan Hapidin. Dia pernah mengalami patah tulang kemudian dioperasi dan kini patah lagi di tempat yang hampir sama dan complicated, di mana tingkat kesulitannya sangat tinggi, sehingga memerlukan waktu dalam penanganannya.

“Kami pasti akan berupaya semaksimal mungkin untuk memperbaiki kaki kiri Hapidin termasuk teknik pemasangan. Ia akan segera naik kemeja operasi sambil menunggu hasil tes lainnya yang menunjang untuk kita lakukan operasi,” terang spesialis bedah orthopaedi dan traumatologi itu.

Selain melakukan tindakan medis, RSON juga menyediakan psikolog untuk menunjang kesembuhan Hapidin.

“Kami akan total dari segala aspek dalam mengawal kesembuhan Hapidin. Saat ini pasien di obati infeksi nya dan bagian kakinya diistirahat kan dengan pemasangan brace. Bila telah teratasi infeksi dan alergi nya baru dilakukan terapi definitif yaitu rekonstruksi serta stabilisasi tulang dan penyembuhan kerusakan di sendi pergelangan kaki,” tambah Basuki.

Sebelumnya, dalam rilis PSSI menyebutkan kalau Hapidin dibekap cedera saat menjalani turnamen antarkampung (tarkam) di desa Kebon Rawapocong, Pekalongan bulan September 2015. Waktu itu, PSSI memang tak menggelar kompetisi. Semestinya, karena cedera itu Hapidin harus menjalani operasi. Dengan pertimbangan biaya, Hapidin memilih terapi alternatif di Surabaya sebagai upaya penyembuhan. Dia disarankan untuk beristirahat selama setahun setelah terapi itu.

Belum genap enam bulan masa istirahat, Hapidin mulai berlatih lagi dan berimbas terhadap cederanya itu. Mau tak mau, Hapidin harus menjalani operasi. Kakinya pun dipasang pen. Dia diminta untuk beristirahat selama satu tahun. Namun, enam bulan setelah operasi, Hapidin meminta melepas pen. Selang beberapa waktu dua telah mengikuti turnamen lokal.

Nah, memburuknya kondisi itu membuat Hapidin butuh operasi lagi. Biaya diharapkan dari penjualan sepatu.

(fem/krs)


NO COMMENTS